Asal - Usul Suku Sakai
Asal Mula Suku SAKAI
Akibat penguasaan
teknologi bertahan hidup yang lebih baik, orang-orang Melayu Muda ini berhasil
mendesak kelompok Melayu Tua untuk menyingkir ke wilayah pedalaman.
Di pedalaman,
orang-orang Melayu Tua yang tersisih ini kemudian bertemu dengan orang-orang
dari ras Wedoid dan Austroloid. Hasil campur antara keduanya inilah yang
kemudian melahirkan nenek moyang orang-orang Sakai.
Menurut cerita orang-orang Sakai jaman dahulu nama Sakai itu diberikan dimasa
penjajahan Jepang yang pengertiannya lebih kurang orang-orang yang tidak mau
dijajah atau orang kuat dikarenakan bisa hidup berpindah-pindah didalam hutan
Versi masyarakat umum
sekarang nama Sakai konon berasal dari huruf awal kata Sungai, Kampung, Anak,
dan Ikan. Maknanya, mereka adalah anak-anak negeri yang hidup di sekitar sungai
dan mencari penghidupan dari hasil kekayaan yang ada di sungai berupa ikan.
Sebutan Suku
Sakai yang primitif, menyendiri kini mulai diprotes oleh masyarakat suku Sakai
yang sudah maju, karena hal tersebut berkonotasi pada hal yang kuno dan bodoh,
serta tidak mengikuti kemajuan jaman.
Sedangkan
kenyataannya kini, masyarakat Sakai sudah tidak lagi banyak yang masih
melakukan tradisi hidup nomadennya, karena wilayah hutan yang semakin sempit di
daerah Riau.
Kini anak-anak Sakai
sudah banyak yang mengenyam pendidikan hingga Sarjana, sudah banyak bekerja
diperusahaan-perusahaan nasional bahkan multinasional seperti PT. Chevron
Pacific Indonesia, PNS, POLRI, Putra asli suku sakai Muhammad Chandra lolos
menjadi pasukan Pengibar Bendera Pusaka di Istana Negara pada 17 Agustus 2012.
Salah satu
ciri masyarakat Sakai yang juga melahirkan penilaian negatif dari orang Melayu
adalah agama mereka yang bersifat animistik.
Masyarakat Sakai sekarang telah memeluk Agama Islam, namun budaya mereka tetap mempraktekkan kepercayaan nenek moyang mereka yang masih diselimuti unsur-unsur animisme, kekuatan magis.
Kehidupan masyarakat
Sakai saat ini sudah banyak dipengaruhi oleh pendatang serta pekerja perkebunan
dari tanah Jawa, Medan, Padang dan juga beberapa daerah di Sumatra lainnya.
Komposisi
masyarakatnya pun menjadi lebih heterogen dengan pendatang baru dan pencari kerja dari berbagai kelompok masyarakat yang ada di Indonesia. Akibatnya,
masyarakat Sakai pun mulai kehilangan sumber penghidupan, sementara usaha atau
kerja di bidang lain belum biasa mereka jalani.
Banyaknya
pembukaan hutan untuk perkebunan sawit dan juga pemukiman penduduk baru serta
program transmigrasi, telah mempengaruhi cara pemikiran dan juga pola hidup
suku sakai.
Mereka kini
jarang yang hidup di hutan, tetapi menetap bersama-sama dengan pendatang.
Kepercayaan animisme yang dahulu dianut oleh sebagian besar suku Sakai, kini
berganti dengan agama seperti Islam.
Sehingga
keyakinan terhadap makhluk halus yang sering disebut 'Antu, tidak lagi
menyelimuti kehidupan mereka. Anak-anak Suku Sakai pun sudah memasuki sekolah.

Komentar
Posting Komentar